PASAR DOMESTIK: MUTIARA YANG [SERING] TERABAIKAN
OPTIMISME UMKm DI BALIK KRISIS
Oleh: Iyuk Wahyudi 1)
Banyak kalangan, termasuk di dalamnya para pebisnis dan pengamat ekonomi, berpendapat bahwa krisis ekonomi global yang terjadi sejak kuartal III tahun 2008 lalu diprediksi akan lebih berdampak berat ketimbang krisis moneter tahun 1997 lalu. Hal ini dikarenakan, meski krisis saat itu menimpa hampir seluruh negara-negara di kawasan Asia, namun negara-negara Eropa dan Amerika yang selama ini menjadi negara tujuan ekspor dan pusat perdagangan dunia tidak mengalami krisis serupa. Sehingga kegiatan ekspor dan perdagangan antar negara tetap berjalan baik. Bahkan banyak diantara pengusaha Asia yang mendapatkan wind fall karena selisih mata uang Dolar yang makin meningkatkan daya saing produk ekspor yang dihasilkannya.
Berbeda dengan krisis yang terjadi saat ini. Krisis yang bermula dari kejatuhan sektor moneter dan berpusat di Amerika Serikat, lalu berimbas ke kawasan Eropa dan belahan bumi yang lain, telah menyebabkan turunnya daya beli secara radikal, jatuhnya banyak perusahaan besar di Eropa dan Amerika, merebaknya PHK massal, dan munculnya semangat ’proteksionisme’ di negara-negara tersebut meski dalam kadar yang masih relatif wajar. Akibatnya, seperti yang diprediksi oleh Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi global hanya 0,5% saja., padahal pada tahun sebelumnya mampu tumbuh 2,8%.
Hal ini menyebabkan peluang negara-negara pengekspor, khususnya Indonesia, akan kesulitan untuk memperoleh pasar dan mendapatkan nilai tambah dalam jangka waktu dekat. Ibaratnya, kalau krisis pertama dulu yang terkena hantaman adalah dapurnya, sehingga kita masih bisa menggunakan dapur darurat dengan tetap beraktivitas normal seperti biasa, namun sekarang kondisinya berbeda karena yang dihantam adalah pasar sasaran utama dunia, sehingga banyak pihak cukup khawatir bila kondisi tersebut berlangsung lama. Pertumbuhan ekonomi Indonesiapun diperkirakan akan mengalami kontraksi dari 6,2% menjadi hanya 4% saja. Dengan semakin tingginya angka pengangguran yang terjadi saat ini dan potensi PHK lanjutan di kemudian hari, disertai lambatnya pertumbuhan sektor riil karena kebijakan bank yang semakin memperketat penyaluran kredit, maka pertumbuhan yang hanya 4% tersebut akan menjadi sinyal yang cukup mengkhawatirkan.
Para pelaku bisnis memperkirakan bahwa para eksportir dan pebisnis lokal akan mulai merasakan dampak krisis pada semester I tahun 2009 ini. Di akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 lalu belum terasa dampaknya karena masa-masa tersebut biasanya merupakan tahap penyelesaian atas kontrak dagang/pembelian yang berlaku sepanjang tahun 2008. Sedangkan kontrak-kontrak baru biasanya akan keluar di pertengahan tahun 2009, dan saat itulah yang diprediksi banyak pebisnis akan mengalami stagnasi dan bahkan penurunan besar. Karena sejak munculnya krisis ini ada pergeseran pola kontrak order, dari sebelumnya tahunan, menjadi bulanan dan triwulanan. Para pembeli di luar tidak berani melakukan komitmen yang sifatnya jangka panjang dalam kondisi tak menentu seperti saat ini.
Pasar Dalam Negeri. Membangunkan Gajah Tidur.
Tidak bisa dipungkiri bahwa negara manapun akan mendorong para pengusahanya untuk berlomba meningkatkan kegiatan ekspor mereka. Karena selain akan menambah pundi devisa, menyeimbangkan neraca pembayaran, juga akan meningkatkan prestige bila mana mampu meraih surplus perdagangan. Demikian halnya bagi pengusaha, semakin mampu mengembangkan bisnisnya hingga ke pasar ekspor, maka akan semakin tinggi prestige yang mereka rasakan. Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja asalkan motif dan hasrat bisnis tersebut tidak semata-mata dilakukan demi prestige atau gengsi. Bagi pelaku bisnis yang memang telah memiliki jejaring bisnis global, pengalaman, serta kapasitas yang memadai, melayani pasar ekspor memang merupakan peluang yang sangat baik karena biasanya order yang diperoleh sangat besar meski dengan harga yang terkadang minim. Sebagian besar eksportir kita, khususnya yang masih skala menengah, akan sulit sekali mampu menerobos langsung dengan pembeli besar (wholeseller), seperti Wallmart, JC Paney, dan lain-lain. Mereka harus berhadapan dengan perantara dan para agen pemasaran yang ironisnya justru mendapatkan margin keuntungan jauh lebih besar dari pada produsen /eksportir sendiri, sementara resiko terbesar ada di pihak produsen/eksportir.
Bagi kalangan pengusaha menengah-kecil, melayani ekspor langsung terkadang juga berakhir dengan kekecewaan dan kerugian yang parah. Minimnya pengetahuan dan pengalaman berbisnis di negeri orang, lemahnya pemahaman hukum dagang internasional, dan rendahnya bargaining position, sering memposisikan para pelaku usaha menengah-kecil dalam posisi yang lemah dan tertindas. Tak heran ada banyak pengusaha ’tanggung’ di sentra-sentra industri, seperti: Jepara, Klaten, Solo, Jogja, Garut, Tanggualngin, bahkan Bali, yang harus menanggung kerugian hingga kebangkrutan akibat kondisi tersebut.
Sebenarnya Indonesia dengan penduduk 240 juta jiwa dengan daya beli yang relatif cukup baik, dan bahkan cenderung konsumtif, merupakan pasar yang sangat menggiurkan. Banyak negara-negara besar, seperti Jepang, AS, negara-negara Eropa, yang justru menjadikan Indonesia sebagai pasar sasaran utama. Indonesia menjadi pasar paforit negara-negara maju untuk barang-barang konsumtif dan erat dengan gaya hidup, seperti: apartement, mobil, motor, assesories, fashion, handphone, dan lain-lain. Bahkan, berdasarkan hasil survey konsumen sebuah lembaga di Singapura dan Malaysia, ternyata mayoritas pembeli domestik negeri itu adalah warga Indonesia. Khususnya untuk produk properti/apartemen, jasa kesehatan, dan pariwisata.
Kita mungkin perlu berkaca kepada negara lain, seperti India dan China. Kedua negara ini telah berhasil memanfaatkan jumlah penduduk besar yang mereka miliki sebagai pasar utama produk-produk domestik mereka. Warga di kedua negara tersebut sama-sama bangga dengan hasil karya anak negeri mereka. Semangat nasionalisme mereka begitu tinggi dan tidak mudah silau dengan karya-karya yang mungkin lebih spektakuler dari luar. Di India, kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan raya hampir sepenuhnya merupakan produk buatan dalam negeri. Para pejabat tinggi hingga warga kebanyakan bangga menggunakan mobil ‘pribumi’nya sebagai kendaraan pribadi atau dinas. Bentuk nasionalisme inilah yang tampaknya belum dimiliki secara masif oleh sebagian besar warga Indonesia.
Meski sudah beberapa dekade berbagai gerakan untuk menumbuhkan cinta produk dalam negeri didengung-dengungkan, dan yang terbaru adalah gerakan menggunakan produk (sepatu) dalam negeri bagi aparatur/pejabat pemerintah/BUMN, namun kesadaran masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri masih tampak belum optimal. Entah apa sebabnya, yang jelas sebagian besar bangsa ini merasa lebih bangga, bila mampu membeli dan memiliki barang-barang import, branded, meski dengan harga yang mahal.
Krisis global yang melanda dunia saat ini seyogyanya bisa dijadikan momentum bagi seluruh warga untuk mulai beralih mencintai, membeli, dan memakai produk hasil karya anak negeri. Mulailah dari barang-barang kecil yang berhubungan dengan keseharian kita. Mulailah dari sandal, sepatu, kaos, baju, ikat pinggang, beras, mie, minyak goreng, kertas, buah-buahan, dan lain-lain, buatan negeri sendiri.
Bila karakter pasar dalam negeri seperti ini, yakni besar dari segi kuantitas dan konsumtif, lalu bisa dikelola dan diarahkan untuk respek dan membeli produk-produk dalam negeri, maka tentu hal ini akan menjadi kabar teramat baik bagi para pengusaha UKM di negeri ini. Mereka tidak perlu lagi dipusingkan oleh prosedur dan mekanisme pasar ekspor yang kadang merepotkan, tidak khawatir terjadinya komplen dari mitra kerjanya di luar negeri, dan tidak takut rugi karena salah pilih mitra dagang yang ternyata penipu lintas negara. Mereka juga tidak lagi diberatkan dengan tuntutan produk dan layanan yang cukup berat dengan margin keuntungan yang ternyata tidak sebanding dengan resiko yang harus mereka hadapi. Mereka hanya tinggal melayani dan memperlakukan konsumen domestiknya selayak konsumen asing.
Peluang sebagai Tantangan
Imbauan agar kalangan konsumen domestik mencintai dan menggunakan produk hasil dalam negeri seyogyanya diimbangi dengan upaya keras dan keadaran tinggi kalangan produsen dalam negeri untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan yang tidak kalah dengan standar pasar ekspor. Artinya bila selama ini, meski dengan tekanan yang begitu keras, para produsen domestik akhirnya mampu memenuhi tuntutan dan standar kualitas pasar ekspor yang terkenal lebih tinggi, maka mestinya memperlakukan hal yang sama terhadap tuntutan pasar lokal adalah hal yang mudah dan biasa. Siapapun, dimanapun, dan apapun mata uang yang digunakan, pembeli adalah raja.
Bagi para produsen lokal yang selama ini bermitra atau melakukan joint venture dengan perusahaan asing dalam memproduksi produk ekspor, diharapkan mampu mengambil kesempatan untuk belajar banyak dari para ahli desain, QC, dan tenaga ahli asing/ekspatriat yang memiliki kompetensi tinggi. Sehingga terjadi proses transfer teknologi dan kompetensi yang dapat menjadi bekal untuk pengembangan usaha selanjutnya. Jangan terpaku dan dininabobokan dengan aktivitas bisnis rutin, seperti: pengadaan bahan baku, produksi, finishing, packaging, pengiriman, dan pembayaran belaka, tetapi sudah harus dipikirkan bagaimana agar kita mampu mengambil manfaat lebih dan tetap survive meski suatu saat nanti kemitraan itu harus berakhir.
Ada banyak pebisnis lokal yang mampu memproduksi produk dengan kualitas yang memadai, memiliki merk sendiri, dan telah pula memiliki segmen konsumen yang loyal. Di industri sepatu, misalnya, kita kenal merk-merk lokal, seperti: Bucheri, Yongky, Edward Forrer, dan lain-lain, yang kualitasnya tidak kalah bagus dibanding merk-merk luar lainnya. Mereka tumbuh menjadi leader dan tampil beda setelah memahami benar arti kualitas, inovasi produk, dan penerapan manajerial modern dan layanan konsumen yang serius dan berkelanjutan.
Demikian halnya dengan pebisnis di bidang garmen/tekstil. Para produsen garmen/tekstil dan bukan tekstil (TPT) yang selama ini lebih berkiblat ke pasar Amerika sebaiknya juga sudah harus mulai menggarap pasar domestik. Jangan terlena dengan jaminan pasar yang hanya melayani satu atau dua agen atau traders saja karena hanya akan menciptakan situasi ketergantungan yang kurang sehat. Bisnis garmen adalah bisnis yang prospektif asal dikelola secara serius dan profesional. Selagi manusia memerlukan kain/pakaian untuk kebutuhan hidup dan gengsinya, maka bisnis garmen akan tetap tumbuh dan berkembang. Apalagi di negeri dengan jumlah penduduk terbanyak nomer 5 dunia ini.
Usaha Kecil-mikro (UKm). Optimisme ditengah Krisis Global.
Bagi sebagian besar pelaku UKm di Indonesia, gencarnya pemberitaan mengenai krisis global di media massa saat ini tampaknya tidak terlalu menjadi kekhawatiran yang berlebih. UKm di Indonesia mungkin sudah terbiasa hidup dalam situasi krisis yang nyaris tiada henti. Dan faktanya hingga saat ini mereka masih bisa bertahan dan berkarya dengan mengesankan. Krisis dianggapnya sebagai tempaan kehidupan untuk lebih efisien, kreatif, dan pantang menyerah. Krisis sebagai proses seleksi alam untuk menampilkan para pebisnis-pebisnis yang sungguh ulung dan kompetitif. Krisis adalah sebuah tantangan yang siap untuk dijawab dengan karya dan prestasi yang membanggakan.
Optimisme ini juga muncul karena sebagian besar pelaku UKm biasanya memiliki beberapa karakteristik umum yang positif, antara lain: (1) Mengandung muatan lokal (local content) yang cukup tinggi dalam proses produksinya, (2) mengandung nilai kreativitas dan inovasi bernilai tambah tinggi, seperti industri daur ulang dan pemanfatan limbah/wist, (3) telah menjadikan pasar domestic sebagai pasar utama, (4) lebih banyak menggunakan mata uang lokal (rupiah) dalam setiap transaksinya, dan (5) memproduksi berbagai produk yang erat kaitannya dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga secara umum aktivitas bisnis Ukm tidak terlalu memiliki keterkaitan kuat dan langsung dengan turbulensi sektor moneter dan finansial global.
Namun demikian, optimisme yang ada diharapkan jangan sampai membuat pelaku Ukm terlena dan tidak melakukan langkah-langkah perbaikan. Bagaimanapun, karena pelaku Ukm adalah bagian dari rantai bisnis global, langsung tidak langsung pasti akan menerima dampaknya. Perlu upaya yang tidak biasa dalam menghadapi situasi yang memang tidak biasa ini. Beberapa saran yang mungkin perlu dipertimbangkan oleh kalangan pelaku Ukm dalam menyikapi krisis global saat ini, antara lain:
1. Mulai fokus pada pelanggan: inovasi produk, peningkatan kualitas produk dan layanan. Jangan pernah mendikotomikan pelanggan lokal dan asing secara tidak proporsional. Berikan layanan yang terbaik.
2. Selektif dan berupaya meniadakan/mengurangi aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-added value) dalam proses produksi-pemasaran, agar produk dan layanan makin efisien, dan harga pun kompetitif.
3. Mulai memanfaatkan strategi dan kiat-kiat pemasaran yang efektif, meluas dan murah, seperti pemanfaatan teknologi cyber-marketing dengan memanfaatkan komunitas-komunitas di dunia maya.
4. Memproduksi aneka produk yang erat kaitannya dengan kebutuhan masyarakat.
5. Memanfaatkan berbagai fasilitas pameran, seminar, pelatihan yang ditawarkan pemerintah, lembaga nirlaba, dan perguruan tinggi untuk peningkatan kapasitas usaha.
6. Memanfaatkan akses pembiayaan yang mampu diakses untuk peningkatan usaha dengan kondisi usaha yang ada dengan tetap mempertimbangkan kemampuan usaha dan pengembalian yang layak. Beberapa referensi: dana PKBL BUMN, pinjaman KUR, pinjaman mikro, seperti: ULaMM, Unit Layanan Modal Mikro-nya PNM, BPR, Koperasi Simpan Pinjam, dan BMT. Bila yang sudah berkembang dapat mengakses langsung pinjaman dari perbankan.
7. Saran bagi pemerintah, kendala lain yang juga harus menjadi perhatian pemerintah dalam upaya menyelamatkan industri dalam negeri dan menumbuhkan budaya cinta produk negeri sendiri adalah dengan mencegah atau mengeliminir maraknya barang selundupan antar negara. Dengan makin berkurangnya peluang pasar ekspor ke AS dan Eropa, maka akan ada banyak negara eksportir tradisional, seperti: Cina, India, Thailand, dan Vietnam, yang akan mengalihkan pasar sasarannya ke Indonesia. Tidak hanya menggunakan cara legal, bahkan cara ilegal pun akan mereka tempuh, termasuk melalui penyelundupan. Aktivitas penyelundupan ini tidak boleh dianggap hal lumrah, karena dampaknya yang sangat besar dalam merusak tatanan persaingan usaha yang sehat, selain tentunya menimbulkan kerugian potensi pendapatan negara yang sangat besar. Banyaknya barang selundupan yang murah dan menarik ini tentu akan makin kontraproduktif dengan semangat dan gerakan cinta produk anak negeri.
Demikianlah, semoga benar adanya bahwa pelaku UMKM relatif tidak mendapatkan imbas langsung dari krisis global yang terjadi. Optimisme yang ada tidak lantas menjadikan pelaku UMKm lengah dan hilang kewaspadaan untuk terus melakukan perbaikan tiada henti. Karena bagaimanapun, sebagai bagian dari rantai bisnis global, pada akhirnya dan hingga level tertentu, UKm pasti akan merasakan perubahan yang tidak biasa itu.
1) Penulis adalah pemerhati UMKM, tinggal di Kota Medan, saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Jasa Manajemen dan Kemitraan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Cabang Medan.